Bengkulu Utara, Faktaclick.com — Jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, mengalami lonjakan cukup signifikan sepanjang tahun 2025. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena menunjukkan tren peningkatan yang perlu segera ditangani secara komprehensif.
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Utara mencatat adanya kenaikan kasus baru dari tiga orang pada tahun 2024 menjadi sebelas orang pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, satu pasien dilaporkan meninggal dunia.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Utara, Faizal Hadi, SKM., M.Si., menjelaskan bahwa peningkatan ini mencerminkan masih adanya kelompok masyarakat yang rentan terhadap penularan HIV. Ia mengungkapkan bahwa salah satu kasus terdeteksi telah terpapar sejak usia remaja, tepatnya saat masih berstatus sebagai pelajar sekolah menengah atas.
“Dari hasil penelusuran, ada pasien yang telah terinfeksi sejak masa remaja, bahkan ketika masih duduk di bangku SMA,” ujarnya dalam keterangan pers di ruang kerjanya, Jumat (9/1/2026).
Menurut Faizal, temuan tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap perilaku berisiko di kalangan remaja dan usia produktif. Ia menekankan bahwa peran keluarga, lingkungan sosial, serta lembaga pendidikan sangat krusial dalam memberikan edukasi dan pengawasan sejak dini.
Sebagai langkah antisipatif, Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan perkembangan kasus secara berkelanjutan. Selain itu, kerja sama dengan puskesmas di seluruh kecamatan juga diperkuat, terutama dalam pelaksanaan skrining dan pemeriksaan kesehatan rutin di wilayah yang dianggap memiliki potensi risiko tinggi.
“Deteksi dini terus kami lakukan melalui pemeriksaan kesehatan berkala oleh petugas di lapangan,” tambahnya.
Lonjakan kasus ini menjadi sinyal peringatan bagi semua pihak. Dalam waktu dekat, Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Utara berencana meningkatkan intensitas sosialisasi dan edukasi terkait pencegahan HIV/AIDS, khususnya menyasar remaja dan kelompok berisiko.
Pemerintah daerah berharap langkah tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk menekan angka penularan sekaligus mengurangi stigma terhadap penderita, sehingga masyarakat tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang tepat.











